#Dream Trip# Bermula di Jogja (1)

IMG_20151028_083035

“Bade tindak pundi mbak?” tanya laki-laki berumur sekitar 70 tahunan di sebelahku.

“Jogja pak,” Jawabku singkat sembari tersenyum

“Oh, sami mbak kalih kulo,” timpalnya.

Rombongan sekolah Bina Bangsa yang memenuhi stasiun Sidoarjo pagi itu sudah berangkat dengan kereta Penataran yang disewa tiga gerbongnya.

Continue reading

Advertisements

Tepatkah pilihanku! (Pra Keberangkatan)

choice2

“Tiga kali dua puluh empat jam lagi my travel dream will be come true” batinku sambil senyum-senyum sendiri melewati setiap toko di Royal Plaza.

“Hmm … girangnya yang mau jalenjeng,” celetuk mama di sampingku.

Jalenjeng, bahasa bugis untuk berpergian. Tuhan begitu baik, hingga terkadang aku malu karena terus dikabulkan doaku meski bukan hamba yang patuh. Semua berjalan sesuai rencana meski tak sedikit proses menguras hati juga pikiran.

Continue reading

Duta Kuliner Sepur, Kemana Kau Kini?

Kuda besi. Ya, nama lain transportasi favoritku ketika melakukan perjalanan. Perjalanan ke Jogja PP baru saja kulakoni dengan menumpang di gerbongnya. Ada yang hilang…

Teringat ketika menempuh kuliah di Malang dan sering menggunakan jasa kereta api. Mulai dari masih harus berdesakan, antri dari subuh, berdiri di gerbong, kamar mandi tak layak, sampai semakin tertata seperti sekarang. Kala itu ketika harus berangkat pagi sengaja tak sarapan teringat enaknya tahu petis di stasiun Bangil atau sekedar sate kerang pengganjal perut. Tak perlu takut kelaparan.

Continue reading

Muara

Muara

Tidak enak jadi muara

Tempat semuanya akhirnya terkumpul

Muara cuma bisa menerima

Tidak ada yang peduli

Tidak ada yang bertanya ke dia

Apakah dia keberatan atau tidak

Terus saja diisi

Mau air bersih, air keruh, bahkan sampah

Juga berlabuh disana

Tak berkelana hanya menerima

Ku memilih menjadi Ombak

Selalu berpindah

Kadang tinggi kadang berlari kecil

Tapi tak pernah lupa daratan

Dia selalu memenuhi janjinya

Tuk menyapa bibir pantai

Sejauh apapun dia pergi

timthumb.php

url

#Pendakian Slamet# Serba Selamet serba mepet (end)

Perjalanan turun yang seharusnya di Gunung lain lebih mudah dan lebih cepat tidak akan ditemui di Slamet (saat kondisi hujan). Trek tanah yang curam diperparah dengan licin akibat hujan membuat langkah harus ekstra pelan dan hati – hati. Meskipun sudah hati – hati tapi jatuh tak kan terelakan. Siapapun pasti jatuh atau terpeleset. Saya sendiri sampai lelah dan emosi jatuh ber ulang-ulang dengan berbagai posisi, tangan sobek terkena pohon, tangan panas dan gatal menyentuh tanaman entah apa itu, lutut nyut – nyutan menahan jatuh, kepala lelah merunduk terus dipaksa fokus melihat medan. Track semakin parah ketika kami hampir mencapai pos 1. Tak ada pegangan dan sandal sudah semakin licin memaksa saya, Isti, dan Frida harus duduk slorotan di tanah berlumpur.

Continue reading